, ,

Pondok Pesantren Ahlul Qur’an Polman Jadi Tuan Rumah Dialog Lawan Paham Radikal

by -890 Views

Santri Tangguh, Indonesia Utuh: Pondok Pesantren Ahlul Qur’an Jadi Garda Terdepan Lawan Radikalisme

News Polewali– Suara lantang menolak kekerasan, radikalisme, dan terorisme menggema dari Pondok Pesantren Ahlul Qur’an di Desa Patampanua, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Pada Senin, 25 Agustus 2025, para santri dan pemuda berkumpul dalam Dialog Publik bertajuk “Santri Tangguh, Indonesia Utuh: Lawan Kekerasan, Radikalisme, dan Terorisme”.

Acara yang digagas oleh Karang Taruna Kelurahan Madatte bersama Komunitas Tongkrongan Peduli Kabupaten Polman ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah sebuah ikhtiar kolektif untuk memperkuat imunitas generasi muda, khususnya para santri, dari paham-paham yang hendak merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pesantren Sebagai Benteng Moderasi Beragama

Pimpinan Pondok Pesantren Ahlul Qur’an, Mujahid, menyambut hangat dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dipilihnya lembaganya sebagai tuan rumah. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran pesantren sebagai pusat penanaman nilai-nilai moderasi dan perdamaian.

“Kami sangat mengapresiasi dan juga berterima kasih kepada Karang Taruna Madatte untuk kegiatan yang dilaksanakan di lembaga kami. Tentu ini adalah kegiatan yang sangat positif bagi pembangunan bangsa ke depan,” tegas Mujahid.

Ia pun berpesan kepada seluruh santri yang hadir untuk serius mengikuti jalannya dialog. “Untuk ananda semua, kami tekankan agar bisa menyimak secara baik seluruh materi yang akan dipaparkan oleh para narasumber,” ucapnya.

Pancasila dan Al-Qur’an: Dua Kutub yang Berjalan Beriringan

Salah satu momen paling menarik dalam dialog tersebut adalah ketika Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Polman sekaligus Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Matakali, Alauddin, dan Aktivis Muda Muhammadiyah memaparkan keselarasan mendalam antara nilai-nilai Pancasila dan ajaran Islam.

IMG-20250825-WA0003 | sandeq.co.id

Baca Juga: Fun Walk Santri al-Risalah Cetak Sejarah Peserta Membludak Capai 10 Ribu Orang

Dengan lugas, Alauddin membedah setiap sila dalam Pancasila dan menemukan landasan filosofinya dalam Al-Qur’an:

  • Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) sesuai dengan esensi Surah Al-Ikhlas yang menegaskan keesaan Allah.

  • Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) sejalan dengan Surah An-Nahl ayat 90 yang memerintahkan berbuat adil dan kebajikan.

  • Sila Ketiga (Persatuan Indonesia) beririsan dengan Surah Ali Imran ayat 105 yang melarang berpecah belah.

  • Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan) sejalan dengan semangat musyawarah dalam Surah Asy-Syura.

  • Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) adalah implementasi dari Surah Al-Anbiya ayat 107, bahwa Islam dihadirkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil’Alamin).

Alauddin juga mengajak para peserta untuk berpikir kritis.  “Ini menandakan bahwa kemerdekaan kita adalah anugerah dari Tuhan. Lalu, kenapa ada kelompok yang mengatasnamakan agama ingin memecah belah persatuan bangsa Indonesia?” gugatnya. Pertanyaan retoris ini menyentak semua peserta untuk menyadari bahwa tindakan radikal dan teror justru bertentangan dengan nilai-nilai agama dan fondasi negara.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.