OJK Sulselbar Gelar Edukasi Keuangan untuk 150 Petani Kakao: Langkah Nyata Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan di Polewali Mandar
News Polewali– Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat, kali ini dengan menyasar 150 petani kakao di Polewali Mandar. Kegiatan edukasi keuangan yang digelar di area pergudangan PT Bumi Surya Selaras ini tidak hanya menjadi ajang sosialisasi, tetapi juga bagian dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara pelaku usaha jasa keuangan dan PT Bumi Surya Selaras tentang penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani kakao.
Pentingnya Literasi Keuangan bagi Petani Kakao
Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Sulawesi Barat yang berkontribusi besar terhadap perekonomian lokal. Namun, di balik potensinya yang besar, banyak petani kakao masih menghadapi kendala dalam mengelola keuangan, termasuk minimnya pemahaman tentang produk keuangan formal, risiko pinjaman ilegal, serta godaan gaya hidup konsumtif.
Moch. Muchlasin, Kepala OJK Sulselbar, melalui Amiruddin Muhidu (Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen), menegaskan bahwa rendahnya literasi keuangan dapat membuat masyarakat rentan terhadap penipuan keuangan, investasi bodong, atau pinjaman online ilegal.

Baca Juga: Stok Beras Impor Myanmar Masuk Sulbar, Bulog Mamuju Jamin Stok Aman hingga Akhir Tahun
“Edukasi keuangan ini bertujuan agar petani kakao lebih waspada terhadap modus penipuan dan bisa mengelola keuangan dengan lebih baik. Selain itu, kami ingin memastikan mereka memahami manfaat produk keuangan formal seperti KUR, yang dapat membantu pengembangan usaha,” jelas Amiruddin.
Over-Consumerism dan Pengaruh Media Sosial
Salah satu poin penting yang disoroti dalam kegiatan ini adalah fenomena over-consumerism atau gaya hidup berlebihan yang dipicu oleh konten media sosial. Banyak petani, terutama generasi muda, terpengaruh untuk membeli barang-barang tidak penting hanya karena tren, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi keuangan mereka.
Amiruddin menekankan bahwa literasi keuangan tidak hanya tentang memahami produk perbankan, tetapi juga tentang mengelola pendapatan dengan bijak. “Petani kakao harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan pendapatan yang terbatas, pengelolaan keuangan yang baik sangat menentukan kesejahteraan jangka panjang,” ujarnya.
Dukungan Stakeholder untuk Pertumbuhan Ekonomi
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Jufri Mahmud, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, yang menyambut baik inisiatif OJK dalam meningkatkan literasi keuangan di Sulawesi Barat. Ia berharap kolaborasi antara OJK, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan perbankan dapat terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Stabilitas sektor jasa keuangan sangat menentukan keberlanjutan sektor riil, termasuk UMKM, petani, dan nelayan. OJK memiliki peran strategis dalam memastikan masyarakat tidak terjebak dalam praktik keuangan ilegal yang merugikan,” kata Jufri Mahmud.
Melalui program ini, petani kakao di Polewali Mandar diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan mereka. Kegiatan edukasi keuangan untuk petani kakao ini merupakan langkah nyata OJK Sulselbar dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.








